Bila saja Ki Hajar Dewantara masih hidup sampai sekarang tentu beliau sangat kecewa. Kenapa dapat dikatakan seperti itu. Karena zaman sekarang para pendidik kredibilitasnya sungguh harus dipertanyakan, kenapa? Banyak sudah guru, dosen, pengajar lainnya. Memalukan dalam mendidik para muridnya baik dari segala tingkat dimulai dari SD, SMP, SMA bahkan ke perguruan tinggi pun.
Semestinya seorang guru selain pintar serta cerdas haruslah menggunakan hati nuraninya dalam mengajar. Dewasa ini sangat jarang sekali ada guru juga dosen seperi di atas. Banyak yang hanya punya nama guru saja, isinya, kualitas sebagai guru dan hati nuraninya sudah mati.
Penulis mengalami hal yang sama juga terhadap "guru-guru lucu" ini. Lebih parahnya lagi Si Guru ini, meluluskan para muridnya seenak hati dia saja. Bahkan seperti judi cabut tali, mana yang ditarik dia yang keluar. Tentunya gaya pendidikan dilakukan oleh guru seperti tadi, sangat berbahaya bagi masa depan bangsa. Karena memang Sang guru tersebut tak sesuai meluluskan murid yang telah mengikuti mata kuliahnya. Lebih parah lagi guru tersebut selalu berbicara sangat arif dan bijak terhadap muridnya.
Penulis sangat ingat dengan petuah Sang guru, "bila ada nilai yang tak sesuai temui saya, beserta bukti yang ada, bahwa nilai kalian memang tidak seperti itu, supaya saya ganti dengan nilai sesuai." Kenyataan yang terjadi adalah
lain di mulut, lain pula ditindakan,,,
Nasib,,,Nasib,,,
Senin, 06 April 2009
Anak Ilmu Komunikasikah?
Alkisah, di sebuah kota ada kampus kecil berisi para mahasiswa yang ingin menjadi Jurnalis dan Humas. Tentunya dua bidang tersebut merupakan bagian dari fakultas ilmu Sosial Ilmu Politik, dapat disingkat dengan kata FISIP. Pun tentunya bagian dari ilmu komunikasi juga, sehingga so pasti mahasiswa berkuliah mengambil jurusan tersebut adalah anak-anak kritis dan suka melakukan tindakan action. Jarang yang hanya diam saja sekedar menjadi penonton, bahkan seperti kebo di sawah ikut kemana saja gara-gara dicucuk hidungnya, seraya berkata,"mooooo".
Tetapi kenyataan terjadi di kampus kecil tersebut, mahasiswanya terbenam semuanya kreatifitasnya. Entah yang salah sistem di kampusnya atau memang mahasiswanya Error semua. Mungkin keduanya saling berkaitan. Jika kampus disalahkan tidak bisa kita katakan seperti itu, karena seorang mahasiswa tidak pernah tergantung dengan namanya dari dosen dan kampusnya. Ia harus juga mencari di kehidupan masyarakat serta dari orang-orang lain juga. Sehingga dapat dikatakan mandiri, barulah berhak menyandang gelar mahasiswa untuk tujuan akhirnya menjadi seorang sarjana, mencari pekerjaan sekaligus sebagai calon penerus bangsanya.
Nah bila mahasiswanya disalahkan, tidak boleh kita salahkan. Bisa saja mahasiswa yang baru masuk ke kampus berbeda-beda latar pendidikannya dan suasana psikologi, daya tangkap berpikir mahasiswa tidak mungkin sama. Bagaimana agar status kampus ilmu komunikasi itu sesuai dengan namanya. Ya itu harus ada kerja sama antara pihak kampus dengan mahasiwanya. Kampus tak akan bisa hidup tanpa uang bayaran dari mahasiswanya, pun mahasiswa bila tak membayar SPP, kampus tak bisa beroperasi semana mestinya. Para biro di kampus malas menyusun agenda kegiatan mahasiswa, mahasiswa jadi sekedar seperti kebo saja jadinya.
Memang alangkah baiknya bila semuanya mempunyai rasa saling menghormati tak lupa membutuhkan antara yang satu dengan lainnya. Ibarat sebuah burung, tak akan bisa terbang hanya menggunakan satu sayap saja. Kudu kedua sayap dipergunakannya agar dapat terbang melayang tinggi di langit biru,,,
Tetapi kenyataan terjadi di kampus kecil tersebut, mahasiswanya terbenam semuanya kreatifitasnya. Entah yang salah sistem di kampusnya atau memang mahasiswanya Error semua. Mungkin keduanya saling berkaitan. Jika kampus disalahkan tidak bisa kita katakan seperti itu, karena seorang mahasiswa tidak pernah tergantung dengan namanya dari dosen dan kampusnya. Ia harus juga mencari di kehidupan masyarakat serta dari orang-orang lain juga. Sehingga dapat dikatakan mandiri, barulah berhak menyandang gelar mahasiswa untuk tujuan akhirnya menjadi seorang sarjana, mencari pekerjaan sekaligus sebagai calon penerus bangsanya.
Nah bila mahasiswanya disalahkan, tidak boleh kita salahkan. Bisa saja mahasiswa yang baru masuk ke kampus berbeda-beda latar pendidikannya dan suasana psikologi, daya tangkap berpikir mahasiswa tidak mungkin sama. Bagaimana agar status kampus ilmu komunikasi itu sesuai dengan namanya. Ya itu harus ada kerja sama antara pihak kampus dengan mahasiwanya. Kampus tak akan bisa hidup tanpa uang bayaran dari mahasiswanya, pun mahasiswa bila tak membayar SPP, kampus tak bisa beroperasi semana mestinya. Para biro di kampus malas menyusun agenda kegiatan mahasiswa, mahasiswa jadi sekedar seperti kebo saja jadinya.
Memang alangkah baiknya bila semuanya mempunyai rasa saling menghormati tak lupa membutuhkan antara yang satu dengan lainnya. Ibarat sebuah burung, tak akan bisa terbang hanya menggunakan satu sayap saja. Kudu kedua sayap dipergunakannya agar dapat terbang melayang tinggi di langit biru,,,
Langganan:
Postingan (Atom)
