Sabtu, 16 Mei 2009

"Jawasentris kah?"

"Akhirnya datang juga," itulah kata yang diucapkan salah seorang presenter di stasiun televisi swasta nasional ketika membawakan acaranya. kalau tidak salah itu untuk acara lawak, bertujuan menghibur kiat untuk menghilangkan penata dalam pikiran.

Hal yang sama dengan suasana prcaturan politik Indonesia. Akhirnya Presiden SBY menggandeng Bapak Boediono sebagai cawapresnya untuk pemilu presiden 2009 nanti. Pun mereka mendeklarasikan duet mereka menjadi SBY-Berbudi. Banyak pengamat politik mengatakan duet mereka sesuai, dibandingkan memilih cawapres dari partai poltik lainnya. ada juga mengatakan, karena Demokrat adalah partai nasionalis. Jadi pun keduanya harus nasionalis.

Boleh saja nasionalis, tapi bila keduanya berasal dari daerah satu suku yang sama. Apakah dapat dikatakan nasionalis? Lebih baik harus berasal dari daerah lain. Jadi ada kesinambungan terjadi.
Walaupun, siapapun cawapres yang akan dipilih SBY, tetap nilai jual SBY tinggi.

Kalau kata anak gaul simpatisan Partai Demokrat, jargon partai poltik itu diplesetkan menjadi lanjutkan bray,,,,

Luar biasa memang ssosk SBY dalam pandangan masyarakat. Ia Lebih populis, itu juga karena memang ia punya posisi sebagai seorang Incumbent. Secara tak langsung pun lebih terlihat berlawanan dengan capres lainnya.

Penulis bukan bermaksud tidak setuju dengan duet SBY-Berbudi. Melainkan sedikit mengkritisi. Apakah masyarakat di Indonesia yang terdiri dari sabang sampai merauke ini, dapat menerima SBY Berbudi. Atau malah masyarakat dari luar jawa mengatakan, "Jawasentris lagi nih?" moga-moga tak terjadi perpecahan di bangsa kita tercinta tempat kita dilahirkan dan semoga juga tempat kita mengkhiri akhir hayat hidup kita.

Akhirul kalam. Semoga SBY Berbudi bersikap benar-benar nasionalis. Tidak membedakan setiap etnis serta memberikan kemakmuran bagi seluruh pulau di Indonesia tercinta ini. Dan tak ada lagi kasus otonomi daerah bersikap berlebihan seperti, Protap di Sumatera Utara. Tak ayal beberapa daerah ingin memerdekan diri seperti beberapa tahun lalu. Amin,,

Selasa, 12 Mei 2009

Habis Gelap, Terbitlah Terang

Habis gelap terbitlah terang itulah sebuah kata terkenal yang diucapkan oleh R.A Kartini diperuntukkan bagi sebuah emansipasi para wanita di Indonesia. Dan penulis pun ingin meminjam kata mutiara tersebut untuk mengenai permasalahan Bapak pemberantas korupsi di Indonesia, yaitu Antasari Azhar. Kasus yang sedang menimpa Ia untuk sekarang ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh masyarakat dan banyak media mengekspos kasus ini, bahkan banyak melakukan spekulasi menyorot kasus menimpa Antasari Azhari. Kenapa Antasri sekarang sangat heboh dibicarakan? karena ia terlibat dalam pembunuhan pengusaha Nasarudin. Kemudian ia tertuduh sebagai otak dalam perencanan pembunuhan itu.

Dalam pengusutan kasus berlangsung sekarang ini, sudah banyak tersangka yang tertangkap polisi. Tetapi ada suatu hal yang kurang rasanya tak perlu untuk terlalu diekspos para awak media, yaitu mengenai hubungan Antasari dengan caddy cantik Rani. Kenapa penulis mengatakan seperti itu, dikarenakan itu belum tentu benar adanya. Sehingga media kita kurang cerdas dalam memandang kasus Antasari ini. Pun kelihatan seperti media gossip. Belum tentu benar suatu hal terjadi, terus digembar-gemborkan. Semestinya lebih kritis dan tajam dalam memberikan analisis mengenai pembunuhan Nasarudin. Tak melulu mengenai permasalahan asmara Antasari dengan Rani sang caddy cantik tersebut.

Sehingga kasus ini berjalan di tempat saja, tak bergerak sama sekali. Siapakah sesungguhnya orang di balik peristiwa pembunuhan Nasarudin? atau jangan-jangan ini permainan seseorang yang tak menyukai seorang Antasari karena sering menangkap para koruptor busuk kerjanya hanya memakan uang rakyat. Bisa juga sebagai isu supaya masyarakat kita tak mengetahui bagaimana perkembangan rekapitulasi perhitunga suara untuk pemilu legislatif dan permasalahan daftar pemilih tetap belum juga kunjung usai. Atau apa sajalah, secara garis besar merupakan suatu pembalasan kepada seorang Antasari.

Penulis pun berharap semoga kasus menimpa Bapak Antasari Azhari,
Habis Gelap Terbitlah Terang.
Amin,,,,

Hidup KPK
Mati para Koruptor,,,